Honor, Gaji atau Bonus Menulis
HONOR ATAWA BONUS MENULIS
Nah, ini dia. Honor menulis. Ya, jika tulisan kita dimuat, masing-masing media massa akan menyediakan imbalan berupa honorarium. Besarnya bervariasi, tergantung kebijakan mereka masing-masing. Biasanya, media kelas nasional akan memberikan honorarium yang lebih besar ketimbang media lokal.
Untuk satu tulisan dengan panjang 5 ribu – 6 ribu karakter per artikel, biasanya akan mendapatkan honor antara 75 ribu hingga 1 juta rupiah. Media lokal dan regional, berkisar 75 ribu hingga 400 ribu. Sementara media asional rata-rata sudah diatas 400 ribu hingga 1 juta rupiah per tulisan, bahkan mungkin lebih untuk kasus-kasus tertentu.
Mari kita berandai-andai, jika misalnya kita memiliki empat tulisan yang dimuat di media regional dan nasional, maka paling tidak per bulan kita mendaptkan honor : 400 ribu x 4 kali = 1.6 juta rupiah. Lumayan bukan? Honor ini biasanya akan dikirim maksimal dua minggu setelah tanggal pemuatan dan ditransfer via rek. Bank. Karena itu, jangan lupa untuk mencantumkan no. rek Anda.
Anggap saja honor ini sebagai bonus menulis. Jangan terlalu stress dan dipikirkan.
Insyaaloh, dengan makin produktif bonus-bonus ini akan mengalir dengan
sendirinya.
Dari honor ini Anda bisa menggunakannya untuk membeli buku, browsing di internet dsb. Bagi mahasiswa, jika satulisan saja Anda dimuat di media regional atau nasional per bulannya, maka sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan kuliah selama sebulan. Cukup untuk beli buku, kost, makan. Saya telah membuktikannya ketika masih kuliah di ITS dulu. Bahkan, dari honor menulis itulah, saya bisa menyelesaikan studi di ITS.
*Oleh : Nurhadi
Belajar Bisnis Online
Mau belajar KITAB KUNING sendiri dirumah, mau sofeware kitab kuning GRATIS !..download aja di. www.shamela.ws berisi 3.2 Giga yang berisi ribuan kitab klasik maupun kontemporer,tafsir alquran, hadis bukhori muslim dll.
atau jika anda kesulitan download pesan aja hanya 50 ribu sudah ongkos kirim seluruh indonesia DVD.HUb.
Hp : 0856 553 874 38
telp/sms.
>>>KUMPULAN KITAB ISLAM LENGKAP
Tampilkan postingan dengan label Saran Untuk Penulis Pemula. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Saran Untuk Penulis Pemula. Tampilkan semua postingan
Rabu, 02 Desember 2009
Honor, Gaji atau Bonus Menulis
Naskah Ditolak Media
Naskah Ditolak Media
NASKAH DITOLAK?
Jangan takut, jangan pesimis, jangan menyerah jika naskah kita tidak dimuat. Penulis yang sudah mapan pun pernah mengalami hal yang serupa. Tulisan saya, pernah ditolak oleh Kompas hingga sembilan kali, baru pada tulisan ke-10 ia bisa dimuat.
Umumnya, jika setelah dua minggu pasca pengiriman naskah kita tak kunjung dimuat, itu
berarti ditolak. Ada media yang rutin memberitahu bahwa tulisan kita tidak bisa dimuat, namun ada pula yang tidak. Gunakan patokan sederhana ini: Dua minggu tidak dimuat, berarti ditolak.
Jika demikian, kita bisa mengevaluasi kembali, kira-kira apa penyebabnya. Apakah karena : ide yang basi, penyampaian yang bertele-tele atau kesalahan teknis. Edit kembali, perbaiki, jika topiknya masih hangat, coba kirimkan ke media lain.
Intinya : Jangan pernah menyerah, jangan menjadi beban. Anggap saja, naskah
yang kita kirim sebagai tulisan yang hilang. Lalu, sembari menunggu tulisan kita dimuat, jangan berhenti berproduksi. Teruslah menulis dengan topik-topik ainnya.
*Oleh : Nurhadi
NASKAH DITOLAK?
Jangan takut, jangan pesimis, jangan menyerah jika naskah kita tidak dimuat. Penulis yang sudah mapan pun pernah mengalami hal yang serupa. Tulisan saya, pernah ditolak oleh Kompas hingga sembilan kali, baru pada tulisan ke-10 ia bisa dimuat.
Umumnya, jika setelah dua minggu pasca pengiriman naskah kita tak kunjung dimuat, itu
berarti ditolak. Ada media yang rutin memberitahu bahwa tulisan kita tidak bisa dimuat, namun ada pula yang tidak. Gunakan patokan sederhana ini: Dua minggu tidak dimuat, berarti ditolak.
Jika demikian, kita bisa mengevaluasi kembali, kira-kira apa penyebabnya. Apakah karena : ide yang basi, penyampaian yang bertele-tele atau kesalahan teknis. Edit kembali, perbaiki, jika topiknya masih hangat, coba kirimkan ke media lain.
Intinya : Jangan pernah menyerah, jangan menjadi beban. Anggap saja, naskah
yang kita kirim sebagai tulisan yang hilang. Lalu, sembari menunggu tulisan kita dimuat, jangan berhenti berproduksi. Teruslah menulis dengan topik-topik ainnya.
*Oleh : Nurhadi
Tata Cara Pengiriman Naskah
TATA CARA PENGIRIMAN NASKAH
Setelah selesai menulis, selanjutnya kita akan menyempurnakan ikhtiar dengan
mengirimkannya ke media massa yang bersangkutan. Caranya? Gampang. Hampir semua
media massa menyediakan alamat e-mail.
Lewat pos bagaimana? Boleh juga. Tetapi, hanya tinggal beberapa media saja yang menerima naskah lewat pos. Lagi pula, dengan cara ini peluang tulisan dimuat makin kecil, karena redaksi tentu tidak akan mau repot-repot menulis ulang. Jadi, kirim via email.
Ketika mengirimkan naskah tulisan lewat email, gunakan kata pengantar dan judul email
yang baik dan resmi. Jangan sekali-kali menggunakan bahasa gaul !!! Sebutkan dengan jelas, untuk rubrik apa tulisan tersebut.
Contoh surat pengiriman naskah artikel/opini :
Judul email : Opini_Menjadikan Surabaya Sebagai Kota Bahari
Isi email : Redaktur “XY” yth.
Berikut ini saya kirimkan artikel opini dengan judul “Menjadikan Surabaya sebagai kota bahari”. Tulisan ini membahas peluang kota Surabaya sebagai kota bahari ditahun 2009 ini. Kiranya tulisan ini bisa dimuat di rubik “Opini” harian “XY”.
Sekian dan terima kasih.
Salam
Nurhadi
Bisa juga pada “profile” tersebut kita tambahkan prestasi yang berkaitan dengan topik yang kita tulis. Saya ambil contoh, Budi menulis artikel tentang perbukuan, maka informasi buku-buku yang ia tulis bisa menjadi nilai tambah. Profil-nya bisa ditulis demikian : Budi, alumni ITS Surabaya, penulis buku : Cara cepat menjadi penulis best seller.
INTINYA : Berikan informasi yang akan
menunjang tema yang sedang kita garap.
*Oleh : Nurhadi
Setelah selesai menulis, selanjutnya kita akan menyempurnakan ikhtiar dengan
mengirimkannya ke media massa yang bersangkutan. Caranya? Gampang. Hampir semua
media massa menyediakan alamat e-mail.
Lewat pos bagaimana? Boleh juga. Tetapi, hanya tinggal beberapa media saja yang menerima naskah lewat pos. Lagi pula, dengan cara ini peluang tulisan dimuat makin kecil, karena redaksi tentu tidak akan mau repot-repot menulis ulang. Jadi, kirim via email.
Ketika mengirimkan naskah tulisan lewat email, gunakan kata pengantar dan judul email
yang baik dan resmi. Jangan sekali-kali menggunakan bahasa gaul !!! Sebutkan dengan jelas, untuk rubrik apa tulisan tersebut.
Contoh surat pengiriman naskah artikel/opini :
Judul email : Opini_Menjadikan Surabaya Sebagai Kota Bahari
Isi email : Redaktur “XY” yth.
Berikut ini saya kirimkan artikel opini dengan judul “Menjadikan Surabaya sebagai kota bahari”. Tulisan ini membahas peluang kota Surabaya sebagai kota bahari ditahun 2009 ini. Kiranya tulisan ini bisa dimuat di rubik “Opini” harian “XY”.
Sekian dan terima kasih.
Salam
Nurhadi
Bisa juga pada “profile” tersebut kita tambahkan prestasi yang berkaitan dengan topik yang kita tulis. Saya ambil contoh, Budi menulis artikel tentang perbukuan, maka informasi buku-buku yang ia tulis bisa menjadi nilai tambah. Profil-nya bisa ditulis demikian : Budi, alumni ITS Surabaya, penulis buku : Cara cepat menjadi penulis best seller.
INTINYA : Berikan informasi yang akan
menunjang tema yang sedang kita garap.
Dan, jangan lupa untuk menulis profil
singkat Anda. Tulis HANYA yang
sesuai dengan topik yang Anda tulis.
Tidak perlu panjang-panjang, cukup
satu atau dua kalimat.
Misalnya : Budi setiawan PhD, adalah
doktor ekonomi lulusan University of
Sidney. Kini menjadi dosen ekonomi
luar biasa di Universitas XY.
Contoh lain : Arman S, Mahasiswa
jurusan teknik sipil ITS Surabaya.
*Oleh : Nurhadi
Saran Untuk Penulis Pemula
Saran Untuk Penulis Pemula
“Jangan “gengsi” untuk menulis di sura kabar lokal. Peluangnya jauh lebih besar daripada menulis di media kelas nasiona karena tingkat persaingannya yang tidak begitu ketat.
Lagipula, menulis di media lokal akan mempermudah Anda menjalin
komunikasi dengan redaktur, umumnya mereka memiliki waktu yang lebih luang untuk mempelajari tiap naskah yang masuk”.
“Jangan “gengsi” untuk menulis di sura kabar lokal. Peluangnya jauh lebih besar daripada menulis di media kelas nasiona karena tingkat persaingannya yang tidak begitu ketat.
Lagipula, menulis di media lokal akan mempermudah Anda menjalin
komunikasi dengan redaktur, umumnya mereka memiliki waktu yang lebih luang untuk mempelajari tiap naskah yang masuk”.
Langganan:
Postingan (Atom)
Labels
- Artikel dan Opini (8)
- Bekal Untuk Menulis (8)
- Belajar Menulis Artikel (8)
- DVD (1)
- Gaji atau Bonus Menulis (1)
- Honor (1)
- Islam (1)
- Kumpulan Aplikasi (1)
- Kumpulan Kitab Hadits (1)
- Kumpulan Kitab Islam (1)
- Langkah Menulis (6)
- Membuat Tulisan Dimuat Media (3)
- Menjadikan Tulisan Utuh (5)
- Menulis itu Gampang (6)
- Muslim (1)
- Nahwu (1)
- Naskah Ditolak Media (1)
- Paluang Usaha Mudah dengan Menulis dan Membaca Dapat Uang (1)
- Pesantren (1)
- Saran Untuk Penulis Pemula (4)
- Shorof (2)
- Software (1)
- Software Islam (1)
- Tata Cara Pengiriman Naskah (2)



